Cari Blog Ini

Rabu, 06 April 2016

SOCIOPRENEUR

Apa dan siapakah yang disebut dengan sociopreneur itu? Ini dia beberapa pengertiannya menurut beberapa tokoh dan selebriti. Endy J Kurniawan (owner salma dinar) mengidentifikasi socioteenpreneur sebagai entrepreneur yang care terhadap social development dan menjadikan social asset-nya sebagai aktivitas marketing produknya, misalnya pemberdayaan komunitas, CSR (Corporate Social Responsibility) fokusnya nonprofit, bisnis itu adalah impact-nya.
Sedangkan menurut Rohmat Sastro Sugito (founder sotoji) sociopreneur adalah entrepreneur yang dalam bisnisnya mengedepankan aspek social atau bidang bisnisnya di bidang social. Aulia Rachman menyebut sociopreneur sebagai entrepreneur yang punya jiwa social. Sedangkan Rommy Irawan mengidentifikasinya sebagai wirausaha yang dapat memberdayakan masyarakat kelas bawah.
Mosfiq Fadli berpendapat bahwa seorang sociopreneur merupakan entrepreneur yang berkomitmen untuk mengubah keadaan sekitar menjadi lebih baik dan positif, contohnya : Yayasan Cinta Anak Bangsa. Adapun Donny BU (ICT watch researcher) menggolongkan mereka sebagai orang yang mampu membuat inovasi untuk mendorong perubahan social.
Ari Margiono menganggap merekaini lebih mengedepankan social value creation. Sri Safitri (founder speedytrek dan kidevo) memasukannya sebagai pengusaha yang tidak semata-mata cari untung namun juga peduli dengan social dan amal. Sedangkan menurut Dwi Wahyu Arif N (founder senyumkita), mereka adalah wirausaha yang menerapkan prinsip-prinsip entrepreneur untuk perubahan social atau lingkungan.
Suresh Fernando membuat definisi tentang social entrepenurs sebagai berikut :
  1. Are change agents (agen perubahan)
  2. Hold bold visions (memiliki visi yang kuat)
  3. Address the cause of problems, not symptoms (menyasar penyebab masalah, bukan gejala)
  4. Seek to create systemic change (mencari cara membuat perubahan sistemis)
  5. Adopt a mission based on their vision (mengadopsi misi berdasarkan visi mereka)
  6. Relentlessly pursue new possibilities (tak kenal lelah mengejar kemungkinan – kemungkinan baru)
  7. Are engaged in process of learning and improving (berkomitmen dalam proses pembelajaran dan perbaikan)
  8. Treat failure as a learning experience (memperlakukan kegagalan sebagai pengalaman pembelajaran)
  9. Act boldly despite limitations (bertindak secara kuat mengabaikan keterbatasan)
  10. Ekhibit a heightened sense of accountability (menunjukan sikap bertanggung jawab yang tinggi)
Masih terasa normative ya? Kayaknya tidak perlu menjadi social entrepreneur, semua sifat terpujui seperti itu juga harus dimiliki semua orang. Karenanya, kita mesti perhatikan lagi definisi lain. Sebenarnya social entrepreneur itu ya entrepreneur, hanya saja tujuan utamanya adalah menyelesaikan masalah social. So, secara dibentuknya perusahaan adalah menyelesaikan masalah social haruslah menjadi bagian dari social. Kebanyakan socioteenpreneur punya ketertarikan yang kuat dengan komunitas atau lingkungannya. Posisi socioteenpreneur lebih mudah untuk dilihat dengan gambar berikut, tipilogi yang dibuat oleh Alter dalam spektrumnya :
Kegiatan paling kiri-traditional nonprofit merupakan kegiatan yang full social. Aktivitas social seperti panti asuhan bias dikategorikan di bagan paling kiri, sedangkan kegiatan nonprofit seperti volunteer bias dikategorikan di nonprofit income-generating activities. Semakin ke kanan semakin adanya profit dan semakin ke kiri semakin kegiatan social. Bagan paling kanan adalah bisnis murni, kegiatan yang kita kenal sehari-hari, dan kegiatan wirausaha untuk profit. Posisi socioteenpreneur dalam bagian ini terletak di tengah. Semakin dia ada di tengah, semakin baik untuk dikategorikan sebagai socioteenpreneur.
Supaya lebih mudah dimengerti, Alter membedakan apakah sebuah kegiatan itu termasuk sociopreneur atau kegiatan social murni atau bisnis profit murni dilihat dari tiga pendekatan :
Pertama, tujuannya. Apakah bisnis itu tujuan utamanya untuk menciptakan keuntungan sosial atau keuntungan social diberikan setelah keuntungan itu didapat.
Kedua, kepemilikannya. Sociopreneur dimiliki oleh sebuah komunitas. Semakin banyak yang memiliki sahamnya semakin baik.
Ketiga, proses dan hasilnya. Keuntungan langsung diberikan kepada masyarakat atau social.
Intinya wirausaha social (sociopreneur) adalah orang yang mengetahui atau memahami adanya masalah social di masyarakat. Selanjutnya dengan menggunakan prinsip-prinsip kewirausahaan, mereka mengorganisasi, mengkreasi, dan mengelola potensi yang ada untuk membuat perubahan social.
Pemahaman yang cukup tentang dunia social (mapping permasalahan dan potensi) + prinsip-prinsip kewirausahaan = social entrepreneur.
Sudah jelas bahwa kegiatan pengabdian masyarakat belum bias dinyatakan social entrepise. Begitu juga dengan CSR (Corporate Social Responsibility) sudah jelas bukan kegiatan social entrepise.
Jadi, kesimpulannya socioteenpreneurs adalah wirausaha muda yang mempunyai perhatian penuh terhadap pengembangan masyarakat di lingkungannya dan mampu memberdayakannya untuk mengahasilkan satu perubahan social yang berujung pada kesejahteraan bersama.

Sumber : Buku Socioteenpreneur/Erlangga

Kamis, 31 Maret 2016

Pendamping Desa/Kader Desa dan Pengentasan Kemiskinan

Pendamping Desa sebagai Kader Desa Provinsi Riau sebagai Penggerak Desa dalam Pengentasan Kemiskinan (Balai Latihan Masyarakat Pekanbaru, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi)
Pendamping desa sebagai kader desa dalam upaya pengentasan kemiskinan diharapkan dapat memahami akar masalah kemiskinan di desa. Jangan sampai kemiskinan di desa hanya dijadikan sebuah isyu dan dijadikan objek proyek semata, maka pendamping desa dapat mangajak masyarakat desa untuk berpikir kritis dan mereflesikan tentang akar permasalahan kemiskinan secara utuh dan memahami perangkap kemiskinan yang terjadi di desa
Sebagaimana dipahami perangkap kemiskinan dapat dilihat dari beberapa dimensi antara lain (1) kemiskinan itu sendiri, (2) kelemahan fisik, (3) keterasingan atau kadar isolasi, (4) kerentanan dan, (5) ketidakberdayaan. Kelima unsur ini saling berkait satu sama lain suatu jalinan interaksi timbal balik, sehingga merupakan perangkap kemiskinan yang benar-benar berbahaya dan mematikan peluang hidup masyarakat atau keluar miskin. Pendamping desa sebagai kader desa dapat memahami lima unsur diatas dan mampu menganalisisnya untuk mencari akar masalah kemiskinan di desa. 
Sebagai upaya pengentasan kemiskinan pemberdayaan masyarakat juga menjadi hal perlu dilakukan bukan hanya merubah perilaku tetapi juga merubah cara berpikir, mustahil ada perubahan kearah yang benar dan baik jika kesalahan bepikir masih terjebak dan terbenam dalam pikiran kita.
Pendamping desa atau Kader Desa sebagai penggerak perubahan desa ke arah yang lebih modern, perlu memperhatikan ciri-ciri manusia modern, tetapi tidak terjebak dalam kehidupan modern yang merugikan dan merusak tatanan sosial masyarakat desa. 
Ciri masyarakat modern antara lain : 
  1. Terbuka pada pengalaman-pengalan yang baru dan tidak mencurigai pendapat-pendapat baru atau pikiran-pikiran baru. 
  2. Kemandirian (independence), orang modern berusaha mandiri dan melepaskan diri dari ketergantungan pada pemilik otoritas. 
  3. Percaya pada sains
  4. Ambisius dan berkeinginan untuk naik status yang diatasnya. 
  5. Mempunyai rencana jangka panjang, hidupnya direncanakan dengan benar. 
  6. Aktif berpolitik, berusaha ingin menentukan jalan pemerintahan

Desa modern memang perlu tetapi tanpa meninggalkan tradisionalisme mereka sebagai salah satu pondasi dalam hidup berdesa yang baik. Di era saat ini yang semakin kompetitif maka pendamping desa sekaligus kader Desa harus mengetahui apa yang sedang dihadapi, apa yang akan dilakukan, bagaimana strategi implentesinya. 
Pendamping desa atau Kader Desa harus bisa mengikuti perkembangan tetapi tidak boleh terbawa arus terhadap perkembangan itu sendiri. Kader Desa harus kritis, kreatif dan inovatif dalam menghadapi realitas social. Sehingga pendamping desa atau kader desa bukan hanya hanya menjadi kepanjangan tangan non formal pemerintahan desa tetapi adalah penggerak yang berjiwa progresif-revolusioner mendorong perubahan desa yang lebih maju dan sejahtera.
Sumber : diolah dari berbagai sumber